Dengandemikian, buku nonteks pelajaran memiliki kedudukan sangat strategis dalam mendukung upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional. Buku nonteks pelajaran memiliki kedudukan sebagai buku yang dapat melengkapi pendalaman materi dan penambahan wawasan bagi pembaca dari pembahasan materi yang tidak tersaji dalam buku teks pelajaran.
Bukuini memiliki peran yang penting dalam kegiatan belajar mengajar. Menurut Supriadi (2000: 46), buku teks berperan sebagai bahan ajar atau media instruksional yang dominan selama kegiatan belajar-mengajar berlangsung. Dengan kata lain, buku itu berguna untuk menyampaikan materi kurikulum. Keberadaan teks pembelajaran begitu penting sehingga
denganmengacu pada ciri-ciri buku nonteks pelajaran tersebut maka dapat dinyatakan bahwa buku nonteks pelajaran adalah buku-buku berisi materi pendukung, pelengkap, dan penunjang buku teks pelajaran yang berfungsi sebagai bahan pengayaan, referensi, atau panduan dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran dengan menggunakan penyajian yang
DANALASAN SKOR (1-4) 1. Teks a. Setiap teks (tulisan, gambar, dan ilustrasi) mudah dibaca dan dipahami; b. Sistematika penulisan teks sesuai dengan aturan standar. 2. Ilustrasi/Gambar a. Jelas dan menarik bagi pembaca sasaran; b. Keterpaduan dan ketepatan pewarnaan. 3. Desain a. Desain cover, halaman isi, dan ilustrasi sesuai
Padasisi lain, buku teks dapat dipandang sebagai simpanan pengetahuan tentang berbagai segi kehidupan, hal ini dikarenakan isinya sudah dipersiapkan dari segi kelengkapan dan penyajiannya, buku teks itu memberikan fasilitas bagi kegiatan belajar mandiri, baik tentang isinya maupun tentang caranya.
LainnyaPerbedaan Buku Suplemen dan Buku Teks d. Menyesuaikan dengan kemampuan berpikir pembaca. Penulisan buku nonteks khususnya buku suplemen selayaknya lebih menyesuaikan pada kemampuan berpikir peserta didik. Kemampuan berpikir peserta didik dapat dipengaruhi oleh kompetensi dirinya dan lingkungan tempat mereka berada.
Kediri Jatim, Berita Patroli --- Liputan yang dilakukan oleh tim Koran ini tentang praktik penjualan Buku Modul di MTsN 2 Kota Kediri sesungguhnya bukanlah hal yang mengejutkan. Kasus semacam ini mudah ditemukan pada berbagai tingkat satuan pendidikan di berbagai daerah. Penjualan Modul atau buku pelajaran sejatinya telah dilarang oleh pemerintah,
Pertimbanganditetapkannya Permendikbudristek Nomor 25 Tahun 2022 tentang Penilaian Buku Pendidikan adalah: a. bahwa untuk melindungi peserta didik dan masyarakat dari beredarnya Buku yang tidak bermutu dan tidak sesuai isi Buku serta syarat kelayakan isi Buku; b. bahwa Buku nonteks yang disusun oleh masyarakat perlu dilakukan penilaian atas
Jenisbuku ini memiliki peran yang sama pentingnya dengan buku teks. Dalam dunia pendidikan, buku nonteks pelajaran berguna untuk melengkapi dan mendukung proses pembelajaran di tiap-tiap jenjang pendidikan. Buku jenis ini juga merupakan sarana proses pembelajaran untuk kalangan yang lebih luas.
Sumber belajar merupakah hal terpenting di dalam pembelajaran. Tanpa sumber belajar pola pembelajaran akan terasa hambar atau monoton tidak akan ada hal yan
u4W3r6. Buku nonteks pelajaran menjadi salah satu bagian dari buku pendidikan. Menulis buku ini hendaknya memenuhi berbagai syarat yang sejalan dengan tujuan pendidikan. Menulis buku tidak hanya buku teks, buku nonteks pelajaran juga melengkapi dunia pendidikan. Jenis buku ini memiliki peran yang sama pentingnya dengan buku teks. Dalam dunia pendidikan, buku nonteks pelajaran berguna untuk melengkapi dan mendukung proses pembelajaran di tiap-tiap jenjang pendidikan. Buku jenis ini juga merupakan sarana proses pembelajaran untuk kalangan yang lebih luas. Hal ini karena buku nonteks pelajaran tidak diterbitkan dalam bentuk seri berdasarkan jenjang pendidikan. Penggunaannya lebih bersifat umum, selama masih mendukung tujuan pendidikan. Untuk menulis buku nonteks yang baik, seorang penulis hendaknya memenuhi beberapa syarat penulisan buku tersebut. Dengan memerhatikan persyaratan yang ada, ia dapat menulis buku serta menerbitkannya menjadi sarana pembelajaran yang berkualitas dan bermanfaat. Syarat buku nonteks yang paling jelas adalah sejalan dengan tujuan pendidikan. jadi, penulis diharapkan mampu menyajikan materi yang menarik, mudah dipahami, dan memiliki tingkat keterbacaan tinggi. Ia juga hendaknya memastikan bahwa dalam bukunya tidak terdapat unsur pornografi, SARA, nilai penyimpangan, dan bias gender. Kemudian, dalam menulis buku nonteks pelajaran, penulis tidak boleh melewatkan beberapa unsur buku. Buku yang ditulisnya harus memiliki unsur-unsur kulit buku. Kulit buku terdiri atas kulit depan, kulit belakang, dan punggung buku. Selain itu, dalam konten buku tersebut sebaiknya terdapat bagian awal, isi, dan akhir buku. Pada bagian kulit buku depan, penulis perlu memastikan bahwa dalam buku yang telah ditulis dan dicetak tercantum tulisan “telah dinilai dan ditetapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan” di dalam kotak. Kemudian pada kulit buku hendaknya terdapat judul, subjudul bila ada, serta nama penulis yang lengkap. Judul buku sebaiknya dibuat dominan, kontras, dan memikat pembaca. Jika menggunakan subjudul, penulisannya tidak boleh lebih mencolok daripada judul. Nama penulis sebaiknya dituliskan secara lengkap juga. Nama penerbit juga perlu ditulis lengkap dan dibubuhi logo. Peletakan nama penerbit dan logo ini sebaiknya disesuaikan dengan bidang cetak. Selain itu, dalam buku komponen desain dan pola tata letaknya perlu diatur sedemikian rupa hingga menarik. Di samping itu, pada desain kulit buku, penggunaan jenis dan ukuran huruf harus disematkan secara proporsional. Jenis huruf yang digunakan pada kulit buku sebaiknya disesuaikan dengan jenis huruf pada bagian isi. Jika menggunakan ilustrasi, tampilannya harus terfokus dan jelas. Hendaknya ilustrasi juga tidak mengandung unsur provokatif dan bertentangan dengan aspek ke-Indonesiaan. Ilustrasi yang digunakan sebaiknya mencerminkan isi buku. Kemudian pada bagian kulit belakang, buku perlu memuat beberapa unsur. Pertama, perlu ada blurb atau pengenalan isi buku secara singkat. Bagian ini bisa juga diisi dengan komentar dari pihak-pihak yang mengetahui isi buku. Kemudian penulis dan penerbit buku tidak boleh lupa mencantumkan pernyataan hasil penilaian kelayakan buku dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Nomor ISBN juga tidak boleh terlewatkan. Di samping itu, akan lebih baik jika terdapat identitas penerbit yang lengkap disertai alamat yang jelas. Unsur-unsur pada bagian kulit belakang ini bisa disusun mengikuti pola isi buku. Selanjutnya, pada bagian punggung buku wajib dicantumkan identitas penerbit beserta logonya, nama penulis, judul buku, dan subjudul buku. Susunan tata letaknya bisa disesuaikan dengan kulit depan dan belakang. Judul buku bisa ditulis dari bawah ke atas mengikuti American Style. Berikutnya untuk bagian isi, judul semu bisa diletakkan di halaman ganjil jika memang diperlukan. Isi halaman yang hanya berisi judul buku juga diperbolehkan. Kemudian untuk halaman judul bagian dalam sebaiknya terdapat judul, subjudul jika ada, nama penulis, serta nama penerbit dan logonya. Halaman berikutnya dapat diisi dengan halaman hak cipta. Halaman ini sebaiknya berada di halaman genap. Isi halaman hak cipta antara lain keterangan hak cipta dan katalog dalam terbitan. Di samping itu, pada halaman tersebut juga sebaiknya terdapat kotak berisi teks tentang klasifikasi materi buku dan ISBN dari Perpustakaan Nasional. Tidak hanya itu, pada halaman ini juga akan lebih baik jika terdapat keterangan kanal masukan masyarakat. Kanal ini berbunyi, “Dalam rangka meningkatkan mutu buku, masyarakat sebagai pengguna buku diharapkan dapat memberi masukan kepada alamat penulis dan/atau penerbit melalui alamat atau laman atau melalui email [email protected]. Setelah itu, pada halaman kata pengantar, perlu diberikan pernyataan tentang maksud dan tujuan penulisan buku. Pada pemaparannya, sebaiknya juga terdapat proses pembelajaran yang berkaitan dengan materi buku. Halaman kata pengantar ini bisa diakhiri dengan penanda tempat, waktu, dan nama penulis. Berlanjut ke halaman daftar isi dan daftar gambar, penyusunannya sebaiknya terletak di bagian recto. Semua bagian buku harus tercantum dengan lengkap beserta nomor halamannya di bagian ini. Seluruh bagian buku, mulai dari bagian awal hingga akhir tidak boleh ada yang terlewat untuk dicantumkan. Penyusunannya juga harus rapi. Untuk gambar, daftar bisa dimulai dari bagian recto atau verso. Gambar yang dimuat dalam daftar bisa berupa grafik, denah, diagram, maupun gambar pandangan mata, misalnya gambar garis atau foto. Selanjutnya, penulis juga perlu mencantumkan nomor, keterangan, dan halaman letak gambar ditampilkan. Ketentuan peyusunan daftar gambar juga berlaku pada daftar tabel. Untuk penomoran halamannya, bagian awal buku bisa menggunakan angka romawi kecil. Halaman judul dan penerbitan sebaiknya tidak dibubuhi nomor halaman. Penulisan nomor halaman dapat dimulai dari kata pengantar dan halaman-halaman berikutnya. Berbeda dengan bagian awal buku, bagian isi menggunakan angka arab dalam penomorannya. Penomoran halaman bersambung dari halaman pertama pada isi hingga akhir daftar pustaka. Masuk ke bagian isi, penulis perlu menguraikan materi tentang suatu pokok bahasan. Isi materi hendaknya sesuai dengan judul. Kemudian materi juga perlu dikembangkan sesuai dengan perkembangan pengetahuan, keterampilan, dan kepribadian. Dalam penyajiannya, materi bisa disajikan sesuai dengan ketentuan terkait aspek materi, penyajian, kebahasaan, dan kegrafikan. Materi hendaknya ditulis dengan benar dan akurat. Penjelasannya harus mutakhir dan terkonsep. Selain itu, materi juga harus mendukung pencapaian tujuan pendidikan nasional. Di samping itu, materi yang disajikan sebaiknya berasal dari sumber yang benar, secara teoritik dan empirik. Materi juga perlu disajikan untuk meningkatkan motivasi dan mengembangkan diri pembaca. Lebih lanjut, isi buku dalam bentuk materi dapat dijadikan sebagai salah satu cara menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Materi yang dipaparkan tidak harus disesuaikan dengan kurikulum atau kompetensi dasar tertentu. Dengan demikian, buku nantinya bisa dibaca oleh banyak kalangan tanpa harus terpaku pada jenjang pendidikan. Materi buku juga sebaiknya dipaparkan untuk meningkatkan keterampilan, mengembangkan kepribadian, dan menambah pengetahuan. Jadi, materi buku nonteks tidak seperti buku teks yang sebagian besar mendorong kemampuan berpikir secara akademis. Di samping itu, materi perlu disajikan untuk merangsang cara berpikir kritis, kreatif, dan inovatif. Dengan demikian, penulis perlu menyusun materinya agar mengandung wawasan kontekstual, yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Jadi, pembaca mampu mengaplikasikan hal yang mereka baca ke dalam berbagai aspek kehidupan. Materi juga perlu disampaikan secara menarik agar menumbuhkan rasa ingin tahu yang mendalam. Aspek kegrafikan dan tata bahasa tidak berbeda dengan ketentuan buku lainnya. Sebaiknya penulis menguasai tata bahasa dan kaidah penulisan yang baik dan benar. Kemudian penulis juga hendaknya menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Dalam menulis buku nonteks pelajaran, dia juga perlu menulis kata-kata baku, kalimat efektif, dan paragraf yang padu. Penulis juga bisa menyematkan berbagai ilustrasi dalam bentuk apapun yang sesuai dengan materi buku. Ilustrasi juga perlu diatur secara proporsional dengan memerhatikan komposisi warna dan ukuran. Kemudian, penyematan ilustrasi juga harus mempertimbangkan kejelasan pesan yang ingin disampaikan. Pada bagian akhir buku, perlu dicantumkan informasi pelaku penerbitan, glosarium, daftar pustaka, indeks, dan lampiran. Kemudian penerbit buku wajib memberikan informasi mengenai identitas penulis secara lengkap. Hal ini bertujuan memberikan referensi lain atau acuan kepada pembaca. Di samping itu, penerbit dan penulis juga akan menunjukkan tanggung jawabnya dalam memaparkan identitas si pembuat buku. Dengan memahami berbagai persyaratan di atas, pastikan Anda menulis buku nonteks dengan baik dan benar. Anda bisa menjadikan pemaparan di atas sebagai referensi untuk menaati ketentuan atau kaidah penulisan yang sesuai dengan pemerintah. Persyaratan di atas dapat membantu Anda dalam menulis buku hingga menerbitkannya sesuai standar buku pendidikan nasional. Referensi diakses pada tanggal 5 Agustus 2016 pada pukul 0807 WIB [Wiwik Fitri Wulandari]
4 Modul Guru Pembelajar Bahasa Inggris Kelompok Kompetensi Profesional A KEGIATAN PEMBELAJARAN 1 INTRODUCTION TO TEXT A. Tujuan Peserta diklat memahami perbedaan perbedaan antara teks dan nonteks, mengungkapkan gagasan dalam kalimat, dan mengungkapkan gagasan dalam paragraf dalam bahasa Inggris dengan baik. B. Indikator Pencapaian Kompetensi 1. Membedakan teks dan non teks. 2. Mengungkapkan gagasan dalam teks berbentuk kalimat. 3. Mengungkapkan gagasan dalam teks berbentuk paragraf. C. Uraian Materi Pada kegiatan ini anda akan mempelajari berbagai hal tentang teks dan non teks, mengungkapkan gagasan dalam teks berbentuk kalimat dan mengungkapkan gagasan dalam bentuk paragraf. 1. Membedakan Teks dan Non Teks Banyak yang beranggapan bahwa teks adalah tulisan yang dapat kita baca. Namun sebenarnya teks tidak hanya berbentuk tulisan written, namun juga dalam bentuk lisan spoken. Ketika kita berbicara dengan orang lain, dapat dikatakan bahwa kita menciptakan teks untuk menyampaikan makna. Begitu juga ketika kita menulis. Istilah teks berasal dari bahasa Latin “textum” yang berarti menenun. Dalam proses penyusunan teks, setelah kita memilah dan memilih kata- kata, selanjutnya kita menyusun kata-kata tersebut menjadi sebuah “tenunan” kata-kata yang bermakna kuat. Zaman dulu istilah teks hanya dipakai untuk teks tertulis saja, namun konsep teks dalam linguistik sistemik fungsional mengalami perkembangan yang mengacu pada 5 Modul Guru Pembelajar Bahasa Inggris Kelompok Kompetensi Profesional A penggunaan bahasa tulisan maupun lisan. Dan ini menjadi dasar dari pendekatan genre-based. Fairclough, 1992; dalam Emi Emilia, 2011 Pada dasarnya teks seolah-olah terbuat’ dari kata-kata saja, tetapi sebenarnya teks tersusun atas makna. Menurut Halliday, teks adalah satu “semantic unit”atau kesatuan makna. Selanjutnya Halliday menggambarkan teks sebagai berikut The language people produce and react to, what they say and write, and read and listen to, in the course of daily life. … . The term covers both speech and writing … it may be language in action, conversation, telephone talk, debate, … public notices, ... intimate monologue or anything else 1975 dalam Emi Emilia, 2011 Selanjutnya hal yang menjadi pertimbangan adalah apakah serangkaian kata atau sepenggal kata itu bisa dianggap sebagai teks atau bukan. Sebuah teks tidak bergantung pada ukuran atau panjang atau bentuk dari bahasa itu, tetapi pada makna. Contohnya sebagai berikut. Tulisan “STOP” yang sering kita lihat di jalan atau tanda-tanda lain di tempat umum, seperti “ENTRY” atau “OUT”, bisa dikatakan sebagai teks karena berada pada konteks situasi yang tepat, sehingga memiliki makna yang utuh kepada pembacanya. Namun sebaliknya, satu paragraf dari sebuah skripsi atau satu halaman dari sebuah novel, walaupun lebih panjang dari kata “STOP”, tidak bisa dianggap teks karena tidak bisa memberi pemahaman yang utuh kepada pembacanya. Emi Emilia, 2011 Contoh berikutnya, jika ada dua orang sama-sama berbicara tetapi masing-masing berbicara semaunya dan tidak nyambung’ misalnya orang gila maka apa yang mereka katakan sulit disebut teks karena tidak terlihat hubungan semantisnya. Demikian pula kalau kita menulis sepuluh kalimat lalu kita urutkan kalimat-kalimat tersebut secara acak maka hasilnya sulit disebut teks sebab membingungkan pembacanya. 6 Modul Guru Pembelajar Bahasa Inggris Kelompok Kompetensi Profesional A Kesimpulannya, teks dapat ditemukan dalam bahasa dan media apa pun, sepanjang dapat dipahami. Teks tidak dapat dipisahkan dari konteks. Istilah konteks berasal dari kata “teks” yang memperoleh awalan “con” yang berarti ditenun bersama. Awalan con memiliki arti “being together” sehingga dapat diartikan bahwa kata konteks mengacu pada elemen-elemen yang menyertai teks. Ada dua konteks yang berdampak pada penggunaan bahasa menurut Halliday. Yakni konteks budaya dan konteks situasi. Konteks situasi merupakan unsur yang paling kuat dampaknya terhadap penggunaan bahasa, dan terdiri dari tiga aspek, yakni field, mode dan tenor. Selanjutnya tiga aspek tersebut akan membentuk sebuah teks. Hubungan antara konteks budaya, konteks situasi dan teks dapat dilihat dari gambar berikut ini. Seperti terlihat dalam model yang menunjukkan hubungan konteks budaya dan situasi di atas, konteks situasi memiliki tiga unsur yakni field, tenor dan mode. Ketiga unsur ini mempengaruhi pilihan bahasa kita. Field medanlokasi mengacu pada apa yang sedang berlangsung atau yang sedang dibicarakan. Berisi tentang apa, kapan, dimana, Konteks Budaya genre Genre Konteks Situasi Tenor Field Mode Register TEXT 7 Modul Guru Pembelajar Bahasa Inggris Kelompok Kompetensi Profesional A bagaimana dan mengapa sebuah proses sosial terjadi. Topik dari teks bisa berkenaan kegiatan atau apa saja yang dipelajari, termasuk topik- topik berkaitan dengan mata pelajaran di kelas. Tenor pelaku berkaitan dengan siapa saja pelaku yang terlibat dalan suatu proses sosial, yang mengarah kepada hubungan interpersonal antara pihak-pihak yang terlibat atau who is involved. Tenor mengacu pada channel simbolik atau wave length yang dipilih yang betul-betul merupakan satu fungsi atau beberapa fungsi semiotik yang ditugaskan kepada bahasa dalam situasi itu. Bahasa yang dipakai oleh penulis kepada teman akan berbeda dengan bahasa yang dipakai untuk atasan atau orang lain yang belum dikenal. Mode atau channel sarana mengacu pada pertimbangan jalur komunikasi bahasa yang dipakai, menggunakan bahasa lisan atau tulisan, jarak antara orang yang berkomunikasi dalam ruang dan waktu, apakah mereka bertemu muka atau terpisahkan oleh ruang dan waktu. Text typeGenre jenis text juga didefinisikan sebagai ”the ways that we get things done through language – the ways we exchange information, and knowlegde and interact socially”. Genre juga diartikan sebagai “proses sosial yang bertahap dan berorientasi pada tujuan”. Dalam pengajaran bahasa Inggris di Indonesia baik di tingkat SMA maupun SMP yang menggunakan kurikulum 2013, materi dikelompokkan menjadi materi jenis teks genre, teks fungsional pendek short functional text dan teks transaksional dan interpersonal transactional and interpersonal text. Untuk tingkat SMP, text type genre yang diajarkan antara lain 1 Procedure text 2 Descriptive text 3 Recount text 4 Narrative text 8 Modul Guru Pembelajar Bahasa Inggris Kelompok Kompetensi Profesional A 5 Report text Sedangkan untuk pada tingkat SMA SMK, materi yang diajarkan adalah seluruh jenis text yang diajarkan pada tingkat SMP ditambah text berikut ini 1 Spoof text 2 Analytical Exposition text 3 Hortatory Exposition text 4 News Item text 5 Explanation text 6 Discussion text 7 Review text Selain materi jenis text diatas, diajarkan pula materi Teks Fungsional Pendek Short Functional Text. Teks Fungsional Pendek memiliki arti dan tujuan sosial tertentu untuk dipergunakan dalam kehidupan sehari- hari. Teks ini tidak memiliki struktur teks dalam bentuk paragraf-paragaf seperti dalam text typesgenre text. Teks fungsional digunakan untuk informasi sehari-hari. Hal ini disebut fungsional karena membantu Kita melakukan sesuatu dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, apabila ingin mengumumkan suatu hal penting untuk sekelompok orang, maka Kita harus mengerti cara mengumumkannya. Adapun berbagai macam short Functional Text dalam pembelajaran Bahasa Inggris antara lain  Notice  Announcement  Greeting Card  Short Message  Label  Invitation  Advertisement  Letter 9 Modul Guru Pembelajar Bahasa Inggris Kelompok Kompetensi Profesional A  Brochure  Dan lain-lain Teks transaksional dan interpersonal yang hendaknya tercakup dalam mata pelajaran Bahasa Inggris SMPMTs berdasar standar yang diberikan BSNP adalah a Teks Transaksional dan Interpersonal yang terkait dengan lingkungan terdekat Teks Transaksional - Meminta dan memberi jasa - Meminta dan memberi barang - Meminta dan memberi fakta - Meminta dan memberi pendapat - Menyatakan suka dan tidak suka - Meminta klarifikasi Teks Interpersonal - Memberi dan merespon sapaan - Memperkenalkan diri sendiri dan orang lain - Mengucapkan terima kasih - Meminta dan memberi maaf - Menggunakan ungkapan kesantunan b Teks Transaksional dan Interpersonal yang terkait dengan lingkungan sekitar Teks Transaksional - Meminta, memberi, dan menolak jasa - Meminta, memberi, dan menolak barang - Mengakui, dan mengingkari fakta - Meminta dan memberi pendapat - Mengundang, menerima dan menolak ajakan - Menyetujui, dan tidak menyetujui sesuatu 10 Modul Guru Pembelajar Bahasa Inggris Kelompok Kompetensi Profesional A - Meminta, memberi, dan menolak jasa - Meminta, memberi, dan menolak barang - Meminta, memberi, dan mengingkari informasi - Meminta, memberi, dan menolak pendapat - Meminta, menerima, dan menolak tawaran Teks Interpersonal - Meminta, dan memberi persetujuan - Memberi respon atas sebuah pernyataan - Memberi perhatian terhadap pembicara - Mengawali, memperpanjang dan menutup percakapan - Mengawali, memperpanjang dan menutup percakapan telepon - Memberikan pujian kepada orang lain atau atas sesuatu - Memberi dan menerima ucapan selamat c Teks Transaksional dan Interpersonal yang terkait dengan interaksi dalam konteks kehidupan sehari-hari Teks Transaksional - Meminta dan memberi kepastian - Meminta pengulangan - Ungkapan kesantunan untuk meminta dan menerima suatu bantuan atau tawaran - Ungkapan kesantunan untuk mengulang sesuatu Teks Interpersonal - Mengungkapkan dan menanggapi keraguan - Menunjukkan perhatian - Merespon ungkapan kekaguman - Memberi berita yang menarik perhatian - Memberi komentar terhadap berita Selanjutnya apa pentingnya mempelajari jenis teks. Di negara Inggris, anak-anak pun perlu belajar bagaimana berceritera tentang kejadian- 11 Modul Guru Pembelajar Bahasa Inggris Kelompok Kompetensi Profesional A kejadian nyata yang sudah dialami recount baik secara lisan maupun secara tulis meskipun bahasa Inggris bukan bahasa asing. Mengapa demikian? Karena untuk menjadi warga negara yang terdidik dan beradab, anak perlu belajar berkomunikasi secara teratur. Untuk berceritera secara tulis, misalnya, diperlukan langkah orientasi, diikuti oleh urutan kejadian dan biasanya ditutup oleh re-orientasi atau twist bagian yang lucu. Agustien, Helena, 2004 Dengan menyadari adanya struktur teks semacam ini guru Bbahasa Inggris akan lebih peka atau sensitif dalam memilih bacaan yang digunakan untuk mengajar. Ini dimaksudkan agar siswa terbiasa dengan teks-teks yang tersusun dengan baik atau yang disusun sebagaimana layaknya susunan yang biasa digunakan penutur asli. Susunan semacam ini tidak hanya berlaku bagi teks tulis tetapi juga pada teks lisan. 2. Mengungkapkan gagasan dalam teks berbentuk kalimat
d. Menyesuaikan dengan kemampuan berpikir pembaca. Penulisan buku nonteks khususnya buku suplemen selayaknya lebih menyesuaikan pada kemampuan berpikir peserta didik. Kemampuan berpikir peserta didik dapat dipengaruhi oleh kompetensi dirinya dan lingkungan tempat mereka berada. Kemampuan berpikir peserta didik juga sangat berhubungan dengan perkembangan budaya suatu masyarakat. Dengan demikian, seorang penulis buku nonteks seharusnya dapat menulis materi buku nonteks yang sesuai dengan kemampuan peserta didik pada umumnya dan perkembangan budaya Indonesia. 5. Komponen Dasar dan Komponen Utama Buku Suplemen Dalam menulis buku nonteks berkualitas, selain harus memahami langkah-langkah penyusunan buku, juga harus memahami komponen dasar dan komponen utama dalam pembuatan buku nonteks pelajaran Pusat Perbukuan, 2008, hal. 64-70. a. Komponen Dasar Terdapat beberapa komponen, diantaranya Tabel Komponen Dasar Buku Suplemen Komponen Dasar Kriteria Karakteristik buku a Materi buku yang dikembangkan bukan merupakan acuan wajib bagi peserta didik dalam mengikuti salah satu mata pelajaran tertentu. b Materi buku tidak dilengkapi dengan instrumen evaluasi dalam bentuk pertanyaan, tes, ulangan, LKS, atau bentuk lainnya. c Penerbitan buku tidak disajikan secara serial berdasarkan tingkat kelas. d Pengembangan materi tidak terait secara langsung dengan atau sebagian Kompetensi IntiKompetensi Dasar dalam Standar Isi. e Materi buku dapat dimanfaatkan oleh pembaca lintas jenjang pendidikan dan tingkat kelas. Struktur buku a Bagian awal minimal terdiri dari kata pengantar atau prakata dan daftar isi. b Bagian isi merupakan materi buku. c Bagian akhir minimal terdapat bagian daftar pustaka yang dapat dilengkapi dengan indeks, glosarium, atau lampiran. Komponen grafika a Buku dijilid dengan rapi dan kuat. b Buku menggunakan huruf danatau gambarilustrasi yang terbaca. c Buku dicetak dengan jelas dan rapi. d Buku menggunakan kertas berkualitas dan aman. 2. Komponen Utama Komponen utama ini adalah pemandu dalam penulisanbuku nonteks berkualitas, terdiri atas Tabel Komponen Utama Buku Suplemen Komponen Utama Kriteria Komponen Materi a Materi yang mendukung pencapaian tujuan pendidikan nasional b Materi yang tidak bertentangan dengan ideologi dan kebijakan poliik negara, c Materi yang menghindari masalah SARA, Bias jender, serta pelanggaran HAM d Materi yang ditulis sesuai dengan perkembangan ilmu yang mutakhir, sahih, dan akurat e Mengoptimalkan penggunaan sumber-sumber yang sesuai dengan kondisi di Indonesia f Materi atau isi buku mengembangkan kecakapan akademik, sosial, dan kejujuran untuk memecahkan masalah dan mendorong jiwa kewirausahaan g Materi atau isi buku harus secara maksimal membangun karakteristik kepribadian bangsa Indonesia yang diidamkan dan kepribadian yang mantap. Komponen Penyajian a Penyajian materi buku dilakukan secara runtun, bersistem, lugas, dan mudah dipahami. b Penyajian materi lebih mendalam, menyeluruh, dan meluas. c Penyajian materi mengembangkan kreativitas dan kemampuan berinovasi. Komponen Bahasa danatau Ilustrasi a Buku yang menuntut kehadiran ilustrasi, maka penggunaan ilustrasi gambar, foto,